Redundansi
Istilah redudansi sering diartikan sebagai
‘berlebih-lebihan pemakaian unsur segmental dalam statu bentuk ujaran’(abdul
Chaer). Secara semantik masalah
redudansi sebetulnya tidak ada, sebab salah satu prinsip dasar semantik adalah
bila bentuk berbeda maka makna pun akan berbeda. Makna adalah statu fenomena
dalam ujaran (utterance, internal phenomenon) sedangkan informasi
adalah sesuatu yang luar ujaran (utterance-external).
Redudansi adalah sesuatu yang bisa
diramalkan atau diprediksikan (predictable). Karena prediktabilitasnya tinggi
(high predictable), maka informasi pun rendah (low information). Fungsi dari
redundan dalam komunikasi menurut Shannon dan Weaver ada dua, yaitu yang
berkaitan dengan masalah teknis dan yang berkaitan dengan perluasan konsep
redundan itu sendiri ke dalam dimensi sosial.Fungsi redundansi apabila
dikaitkan dengan masalah teknis, ia dapat membantu untuk mengatasi masalah
komunikasi praktis. Masalah ini berhubungan dengan akurasi dan kesalahan,
dengan saluran dan gangguan, dengan sifat pesan, atau dengan khalayak.
Dalam tataran semantic sesungguhnya
tak ada istilah redundansi. Sebab salah satu prinsip dasar semantik adalah bila
bentuk berbeda maka makna pun berbeda.Dalam semantik,
redundansi merupakan salah satu topik yang sejajar dengan topik lain macam
homonimi, sinonimi, antonimi, polisemi, dan hiponimi (Palmer, 1997; Allan,
2001). Oleh
karena itu, redundansi kata-kata dikajinya dengan netral dan tidak dianalisis
dengan parameter preskriptif berupa vonis salah-benar, berlebihan-ekonomis.
Semantik tidak membuat evaluasi bahwa suatu kalimat berlebihan
atau ekonomis (Palmer, 1997; Crystal, 1997) dalam menggunakan kata-kata. Dalam
kajian semantik, redundansi disikapi secara netral deskriptif dengan difokuskan
pada dua konsep semantis—yang artinya sering dikontaminasikan—yaitu perifrase (periphrase)
dan parafrase (paraphrase) (Verhaar, 1993: 127).
Kekurangan-kekurangan dari saluran
(channel) yang mengalami gangguan (noisy channel) juga dapat diatasi oleh
bantuan redundansi. Misalnya ketika kita berkomunikasi melalui pesawat telepon
dan mengalami gangguan, mungkin sinyal yang lemah, maka kita akan mengeja huruf
dengan ejaan yang telah banyak diketahui umum, seperti charlie untuk C, alpa
untuk huruf A, dan seterusnya. Contoh lain, apabila kita ingin mengiklankan
produk kita kepada masyarakat konsumen baik melalui media cetak (koran,
majalah, atau tabloid) ataupun elektronik (radio dan televisi), maka redundansi
berperan pada penciptaan pesan (iklan) yang dapat menarik perhatian, sangat
simpel, sederhana, berulang-ulang dan mudah untuk diprediksikan (predictable).
Selain masalah gangguan, redundansi
juga membantu mengatasi masalah dalam pentransmisian pesan entropik dalam
proses komunikasi. Pesan yang tidak diinginkan atau tidak diharapkan, lebih
baik disampaikan lebih dari satu kali, dengan berbagai cara yang sekreatif mungkin.
Fungsi kreatif redundansi ini juga
bila dikaitkan dengan khalayak, akan sangat membantu sekali pada masalah jumlah
dan gangguan pesan di dalamnya. Jika pesan yang ingin disampaikan tertuju pada
khalayak yang besar dan heterogen, maka pesan tersebut harus memiliki tingkat
redundansi yang tinggi, sehingga pesan yang disampaikan akan berhasil dan mudah
dicerna. Sebaliknya, jika khalayak berada pada jumlah yang kecil, spesialis,
dan homogen, maka pesan yang akan disampaikan akan lebih entropik.Contoh dari
fungsi redundansi di atas misalnya pada pemaknaan seni populer (popular art)
yang lebih redundan dari pada seni bercita rasa tinggi (highbrow art). Hal ini
dikarenakan seni populer lebih mudah untuk dicerna dan dipahami oleh banyak
khalayak dari pada seni bercita rasa tinggi di mana khalayak yang mengerti
hanya beberapa golongan elit saja.
Selain masalah di atas, konsep
redundansi juga bisa diperluas hubungannya dengan konvensi dan hubungan
realitas sosial masyarakat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar