Selasa, 12 Juni 2012

KUMPULAN CERITA PENDEK / CERPEN (Rekayasa Teks)



Cerpen dibawah ini bisa dibilang merupakan Rekayasa teks, yang sebelumnya berbentuk Puisi yang dikarang oleh Chairil Anwar dalam buku puisi 9"Yang Terhempas dan Yang Putus)

ada 4 cerpen yang saya buat. semoga berguna sebagai media pembelajaran anda!




BERCERAI
Kegaduhan dirumahku belum berhenti. Kegaduhan yang kami buat. Aku dan Rahmi, istriku. Seperti malam-malam kemarin. Kami ribut karena perkara rumah tangga. Entah karena aku pulang terlalu malam, atau karena dia yang sibuk dengan pekerjaannya sebagai seorang penulis, hingga dia tak sempat mengurus rumah dan melakukan kewajibannya sebagai seorang istri. Sudah tiga tahun kami menikah. Namun hingga sekarang belum dikaruniai seorang anak. Mungkin Tuhan berkehendak lain. Pasti Dia merencanakan yang terbaik untukku dan istriku.
Malam ini kami bertengkar karena istriku terlalu sibuk dengan pekerjaannya. Seharian ia berkutat dengan laptop di kamar. Sampai-sampai saat aku pulang, dia tak sadar. Dia tak lagi memerhatikanku seperti awal kami menikah. Semakin lama, aku semakin sadar bahwa ia gila akan pekerjaannya. Banyak sekali kertas bertebaran di kamar tidur kami. Rahmi juga terlihat sangat berantakan. Mungkin ia lelah. Tapi apakah harus tiap hari seperti ini? aku seperti tak memiliki istri. “Mi, apakah kau tak berniat menyambutku pulang? Lelah sekali aku seharian mengaar dan memeriksa lembar jawaban di sekolah. Tapi kau sepeti tak peduli. Mana kewajibanmu, Mi?” tanyaku tegas. “Maafkan aku, Mas. Sungguh, kau harus mengerti pekerjaanku ini. jangan sedikit-sedikit mengeluh. “ Berani sekali dia berbicara seperti itu denganku. “Sudah lama aku membiarka mu sibuk dengan pekerjaan mu yang tidak jelas itu. Mana hasilnya? Mana buku yang kau buat? Mana novel yang kau ciptakan? Tak terlihat sampai sekarang.” Pernyataanku membuat wajah Rahmi sedikit emosi. “Apakah penghasilanku sebagai guru kurang mencukupi bagimu sampai-sampai kau juga harus bekerja, berkutat dengan tulisanmu yang tak kunjung selesai!” “Apa? Tak kunjung selesai? Jangan remehkan pekerjaanku, Mas! Ini bukan sekedar untuk mencari uang. Aku tak merasa kurang dengan apa yang kau berikan. Tapi hal yang aku hasilkan lebih dari itu. Aku suka menulis. Hidupku untuk menulis, Mas!” “Aku lelah jika harus terus mengerti. Kau harus sadar, ada suami yang harus kau urus, yang kau sambut ketika pulang kerja, ada rumah yang harus kau tata. Tak seperti ini. semuanya berantakan. Mana kewajibanmu sebagai istri!” hingga malam kami berdebat. Sampai akhirnya kami lelah dan memutuskan untuk berhenti berbicara. Beberapa jam berlalu dan tak ada sepatah kata pun yang kami ucapkan lagi.
Mentari mulai muncul dari persembunyiannya dan membentangkan cahaya. Hangat. Aku tengah bersiap untuk mengajar disekolah. Seperti biasa, ak menyiapkan sarapanku sendiri. Istriku masih tertidur lelap dikamar. Mungkiin ia kelelahan setelah semalaman menulis. Segera kunyalakan motorku, dan berangkat ke sekolah Tunas Mulia, tempatku mengajar. Aku mengajar mata pelajaran kesenian disekolah ini. Aku mencitai seni. Seni adalah cinta. Karena itu aku mengajar dengan sepenuh hati menebarkan seni yang terbalut cinta untuk murid-muridku. Hari ini kelaku membahas seni musik. Karena itu aku sengaja membawa biolaku ituk dimainkan dikelas. Biola yang cukup tua. Diturunkan oleh ayahku yang sebelumnya diberikan dari kakek ku. Keluarga ku memang pecinta musik. Kubuka tempat biolaku. Seketika kumainkan biola ini dengan lihai. Aku sengaja memainkan lagu romance de amour. Lagu ini mengingatkanku kepada ayahku. Lagu inilah lagu yang pertama ia tunjukkan kepadaku. Lagu ini yang membuatku ingin  mempelajari biola. Lagu ini yang membuatku jatuh cinta kepada musik. Aku larut dalam permainan biolaku sendiri. Hanya ayah yang terbayang di pikiranku saat memainkan lagu ini. terbayang wajah hangatnya ketik engajarkanku. Terbayang saat pertama kali i menggesekkan biolanya. Seketka lamunanku terpecah saat mendengar tepuk tangan dari murid-murid dikelasku. Lagu itu telah selesai kumainkan. Aku tak menyadari sedari tadi murid-muridku terpukau mendengarkanku bermain biola. Kegiatan mengajar hari ini berjalan lancar seperti biasa. Aku bergegas kembali ke mejaku di ruang guru dan memeriksa hasil ujian semester kemarin. Mungkin hari ini aku akan pulang malam lagi. Banyak sekali hasil ulangan yang harus aku periksa dan masih ada data yang harus kususun selanjutnya. Ah! Hari ini terasa sangat lama. Beberapa meniit berlalu, diganti dengan jam. Sudah 4 jam aku emeriksa hasil ujian anak-anak dan merapikan meja kerjaku. Ya, saatnya pulang. Jam di tangan kiriku sudah menunjukkan pukul 7 malam. Akhirnya kuputuskan untuk pulang. Tapi niatku berbelok ketika ku mengingat isteriku. Pasti ia sedang sibuk dengan novel yang sedang ia buat. Pasti dia juga tak sempat mebuatkanku makanan. Kuputuskan untuk ampir ke restoran cepat saji didekat rumahku.
Setelah kurang lebih dua puluh menit perjalanan ku, akhirnya aku tiba di restoran cepat saji. Seorang pelayan yang ramah menyapaku dengan sigap didepan pintu yang memiliki hiasan sedikit norak. “Selamat malam, bapak. Selamat datang di restoran kami.” “Ya, terima kasih.” Jawabku. Didalam restoran ini hanya ada sepasang muda-mudi dan aku. Sepi sekali. Tak seperti restoran lainnya yang berada di sebrang restoran ini ataupun disampingnya. Aku segera ke kasir dan bergegas memesan makanan. Saat mulutku bar ingin bicara, penjaga kasir menyapaku lebih dulu. “Selamat malam, Pak. Mau pesan apa? Ada paket terbaru di restoran kami. Ayam goreng, nasi, sup dan puding. Apa bapak mau mencobanya?” dengan sangat terpaksa aku menangguk setuju. Aku malas untuk melihat menu lainnya, dan ingin bergegas pulang. “Oke yang itu saja. Pesan dua ya. Take away saja.” “Terima kasih pak. Totalnya delapan puluh ribu rupiah.” Setelah selesai mebayar, aku enunggu di kursi pojok yang tak  jauh dari kasir. Hanya membutuhkan sekitar lima belas menit, makananku sudah datang, dan aku segera kembali ke rumah.
Sesampainya di rumah, seperti dugaanku, istriku masih berkutat dengan laptop dikamar kami. Dia terlihat begitu lelah, namun wajahnya sangat bersemangat. Bak anak kecil yang sedang bermain di bak pasir. “selamat malam. Kau terlihat lelah sekali.” “dari mana saja, mas? Kenapa kau pulang malam terus? Aku tahu betul seharusnya kau pulang sore dari sekolah. Tapi kenapa selal malam?” lho? Ada apa ini? mengapa istriku  berubah ketus seperti ini. apakah dia tidak sadar aku lelah sekali sepulang mengajar. Mengapa ia begitu kasar. “Ada apa dengan mu, Rahmi? Harusnya kau menyambutku. Bukan malah menanggapi ku dengan ketus seperti itu.” “Ah sudah lah, Mas. Aku tahu betul, kamu sudah berbeda sekarang. Pulang malam terus. Kamu juga tidak serahah dulu dengan istrimu ini. aku salah sedikit saja, kamu membentak. Kamu juga tak pernah mengerti akan pekerjaanku ma. Kamu hanya meremehkan aku. Sebagai suami, tak pernah kulihat dukungan darimu, Mas! Apakah sebenarnya ada perempuan lain diluar sana?!” “Jaga bicaramu, Mi! Kau sudah gila ya? Aku baru pulang bekerja, kau seenaknya menuduhku macam-macam! Kau pun tahu, terkadang banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan disekolah. Aku kira kau sudah tak peduli denganku lagi. Kau terlalu sibuk dengan duniamu sendiri. Terlu sibuk dengan tulisanmu yang tak kunjung selesai itu! Yang tak pernah enghasilkan apapun!” Jawabku dega penuh amarah. Kusadari wajah Rahi memerah. Mungkin aku membuat emosinya memuncak. “Terus saja kau rendahkan pekerjaanku. Terus saja kau rendahkan hobiku. Kapan kau bisa menghargai ku, Mas! Aku lelah seperti ini terus. Kita sangatlah berbeda. Akusadar, aku bukan istri yang baik. bukan istri yang bisa terus mengurus suaminya. Bukan istri yang membahagiakan mu. Bukan istri yang memberikanmu kebahagiaan dan seorang anak. Ceraikan saja aku, Mas. Tolong, ceraikan aku!” Dadaku berdegup kencang. Aku melihat keseriusan Rahmi ketika mengucapkan hal itu. Dia ingin aku ceraikan. Setelah beberapa saat aku berpikir, akhirnya mulutku bergerak. “Baiklah, Mi. Jika itu yang kau inginkan. Jika itu yang selama ini kamu harapkan. Aku tak bisa menolak. Aku juga sadar. Aku bukanlah seorang suami yang baik untuk mu. Aku terlalu membatasimu. Aku mungin juga belum bisa mengantarkan sebongkah kebahagian untukmu. Banyak sekali perbedaan diantara kita. Aku juga mengerti bahwa kamu menginginkan kebebasan. Tak apa sebenarnya jika kau belum bisa menghadiahkan malaikat kecil untuk kita. Itu kehendak Tuhan,Mi. Itu bukan masalah untukku. Baiklah, kita cerai.” Mata rahmi sungguh berkaca-kaca. Akhirnya mata indah itu tak dapat membendung airmatanya. Rahmi menangis. Aku juga ingin menangis, tapi aku harus kuat. Ini keputusan kami. Bukanlah keputusan sepihak. Mungkin Tuhan merencanakan hal yang lebih baik untuk aku dan Rahmi. Aku segera memeluknya. Tak apalah, semoga ini yang terbaik untuk kita. Semoga ada rangkaian kata indah untuk masa depan kami. Terima kasih, Rahmi. Terima kasih atas jembatan singkat nan indah yang sempat kau berikan untuk ku. Aku berharap kebahagiaan selalu memayungi langkah mu. Kita harus saling mendukung dan berdoa untuk kebahagiaan kita di kehidupan masing-masing. 


(Terinspirasi dari sajak "Bercerai" Karya Chairil Anwar)             SovaSakinah

XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX


HAMPA

HARI PERTAMA
Sepatu usang ku terus berjalan melewati rumput di taman kota Jakarta. Sore ini begitu sepi. Setelah beberapa menit, akhirnya aku tiba di bangku taman yang beratapkan pohon rindang. Semakin sepi. Mungkin karena letaknya agak jauh dari jalan raya. Mungkin karena jarang sekali yang melewati taman ini. atau mungkin orang Jakarta terlalu sibuk sampai-sampai ia tidak tahu ada taman disini. Mungkin.
Ces! Korek apiku segera membakar rokok yang sedari tadi bertengger dibibirku. Bibirku sibuk membentuk asap dari hembusannya. Hembusan pertama, terbayang olehku wajah wanita cantik. Wanita yang menjadi tujuanku sehingga aku bisa ampai di taman ini. Sri. Wanita yang aku kenal di pasar malam di daerah kalibata 1 bulan yang lalu. Dia berjanji akan menemuiku di taman ini sebulan kemudian setelah pertemuan kita. Aku lelaki yang pastinya menepati janji. Kuputuskan untuk menunggu di taman ini.
Kubayangkan wajah Sri saat pertama kali kami bertemu. Begitu cantik. Begitu teduh. Mungkin itu yang membuat aku tiba-tiba jatuh hati padanya. Rambutnya panjang ter urai. Matanya bulat. Bibirnya tipis. Pipinya merah jambu. Indah sekali kamu, Sri. Di pasar malam itu, akhirnya aku memutuskan untuk berkenalan dengannya tanpa berpikir panjang. Ya mungkin ini cinta pada pandangan pertama, atau apalah namanya.
 Lima jam terlewat begitu saja. Aku masih menunggu Sri datang. Tapi dia belum tampak. Kusarari sudah dua bungkus rokok ku habis. Kali ini kuputuskan untuk plang. Sepertinya juga ia tak mungkin datang jam sepuluh malam. Aku juga sudah terlalu lelah. Mungkin besok aku akan kembali. Menunggu Sri datang. Semoga saja ia datang.
HARI KEDUA
Tepat pukul lima aku tiba di taman ini lagi. Entah taman apa namanya. Aku hanya ingat didepannya ada sebuah kantor pos yang juga sepi. Satu, dua, empat, delapan, sepuluh. Tepat sepuluh langkah akhirnya aku sampai dibangku taman. Seperti kemarin. Taman ini nampak sepi. Kulihat seekor tupai yang lewat dengan cepat. Sekejap tupai itu menghilang. Kusadari sekelilingku cukup indah. Taman ini begitu apik. Begitu begitu tenang. Lapangannya teduh. Hanya ada bayangan pohon besar yang tertimpa matahari membentuk celah-celah kecil. Srek, srek, srek. Lamunanku pecah oleh suara itu. Ternyata ada seorang nenek tengah menyapu dedaunan kering diatas tanah. Entah darimana datangnya. Mungkin rumahnya di sekitar sini. Entahlah.
Setelah beberapa menit tiba di taman, kuptukan untuk mengambil rokok di saku ku. Dengan lincah jemariku memindahkan rokok itu ke bibir dan membakarnya. Ya mungkin hanya ini yang bisa ku lakukan untuk menunggu Sri. Hanya ditemani oleh rokok dan sekumpulan makhluk hidup di taman ini. Sampai akhirnya kusadari, telah dua jam aku menunggunya. Badanku pegal. Ingin bergerak. Ingin pulang. Tapi tak bisa kutinggal. Aku masih menunggu Sri. Dia pasti datang. Hari ini pasti datang. Jika bukan hari ini, mungkin besok, atau mungkin lusa, mungkin juga Sri tak akan datang.
HARI KETIGA
Seperti kemarin dan sebelumnya, aku tiba di taman sunyi itu. Berharap Sri menepati janjinya. Ingin sekali ku mematahkan kepercayaanku padanya, tapi tak kuasa bila ku ingat senyumnya ketika berkata “Tunggu aku di taman dekat pos Simanjuntak. Jika tak terhalang, pastilah bulan depan kita bertemu.” Ya, hanya senyum itu yang membuatku sabar menunggu. Entah mengapa aku terlalu yakin oleh wanita ini. sebelumnya tak pernah aku memercayai wanita sedalam ini. tak pernah aku menepati janji. Andai Sri tau kalau dia lah satu-satunya yang membuatku penasaran. Aku sangat yakin Sri lah jodohku. Sri lah wanita yang akan menjadi istriku kelak. Yang akan menjadi ibu dari anak-anak ku nanti. Mungkin ini gila. Apalagi hanya sekali aku bertemu dengannya di pasar malam. Tapi sudah jutaan mimpiku ku gantungkan padanya. Ah mungkin aku benar-benar gila.
Hari ini aku sengaja membawa koran yang sebelumnya aku beli di terminal Kampung Melayu. Mungkin ini bisa mengurangi kejenuhanku saat menunggu. Ku buka koran itu. Halaman mukanya membuat ku sedikit tertawa. Pembunuhan disana-sini. Korupsi bertebaran. Rakyat miskin meronta-ronta kelaparan. Sebenarnya apa yang dilakukan pemimpin negara ini. jika akhirnya kesengsaraan dan ketidak amanan yang mereka berikan, sesungguhnya mungkin aku bisa menjadi pemimpin negara yang bekerja dengan mata tertutup. Lucu sekali negara ini.di negaranya sendiri, rakyatnya saja merasa tidak aman, tidak sejahtera. Berani keluar rumah larut malam saja, mungkin mereka sudah di rampok, lalu dibunuh. Ah sudh lah. Itu bukan urusanku.
Sudah habis koran itu ku baca. Ku lipat dan ku mainkan seperti sebuah tongkat. Kupukul berulang kali ke bangku taman. Sambil ku melihat sekeliling. Berharap Sri datang. Namun pemandangan masih sepi. Hanya ada beberapa kendaraan yang lalu lalang. Entah sudah berapa jam aku menunggu. Yang aku tahu, hari sudah mulai gelap. Sepertinya aku harus pulang. Aku bukan lelah, tapi bosan. Apa yang ada dipikiran Sri saat berjanji kepadaku. Apakah dia hanya main-main? Entahlah. Aku tetap pada keyakinanku bahwa Sri adalah masa depanku. Mungkin hingga beberapa hari kedepan aku akan menunggunya di taman ini. Mungkin beberapa minggu. Atau beberapa bulan. Entahlah. Yakinku, Sri pasti akan datang. Entah kapan.
  
(terinspirasi dari sajak "Hampa" karya Chairil Anwar)        SovaSakinah

XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX 


KUPU MALAM DAN BINIKU

Prak! Tamparan itu mendarat di pipi Rianti, istriku. Tamparan keras itu berasal dari tangan kananku yang sedari tadi kaku karena menjadi tumpuan amarahku. “Maafkan aku, mas. Aku tak bermaksud berkhianat” Hanya kalimat itu yang terucap berulang kali dari bibir istriku yang sedikit berdarah. Sebenarnya aku tak tega. Ingin ku menghapus air matanya dan memeluknya. Batinku mendorong, tapi ragaku menolak. Sudah dua tahun belakangan ini aku menahan amarah. Sejak dua tahun terakhir sikapnya berubah. Ia tak lagi menyambutku dimalam hari ketika pulang, tak pula menyiapkan air panas setelahnya. Dia jarang sekali dirumah. Awalnya aku tidak curiga. Mungkin ia pergi mengunjungi rumah ibunya di Bogor dan lupa memberi kabar. Tapi hal ini larut, hingga ku curiga menanyakan Ibu mertuaku, namun ia tidak disana. Aku juga bertanya kepada teman terdekatnya dan tetanggaku. Namun hasilnya nihil.
Mungkin Rianti tidak sadar, hari ini, tanggal 12 November adalah hari ulangtahun pernikahan kami yang ketujuh. Tak terasa sudah tujuh tahun aku bersamanya, sejak tanggal 12 November 1983. Ya mungkin karena aku terlalu menikmati saat-saat indah kami, dan tentunya aku tak ingin kehilangan waktu sedetikpun untuk bersamanya hingga waktu terasa sangat cepat. Aku sadar, tak banyak kebahagiaan yang kuberikan kepada Rianti sejak awal menikah. Aku bukan lelaki yang kaya raya. Hanya rumah kecil nan sederhana yang dapat aku berikan kepadanya ketika ulang tahun pernikahan kami yang kedua. Sebelumnya memang kami menumpang dirumah orang tua ku samil aku menabung untuk membeli rumah sendiri. Mobil mewah juga tak kupunya. Hanya motor butut yang biasa ku gunakan untuk mengantar Rianti ke pasar. Aku bersyukur memiliki istri sepertinya. Rianti begitu cantik, pintar, sabar. Keluarganya juga merupakan keluarga terpandang di Bogor. Mungkin karena itu almarhum Ayah Rianti awalnya tidak menyetujui aku menikahi anaknya. Pekerjaanku juga bisa dibilang rendahan. Aku hanya seorang buruh di pabrik rokok cikarang. Tak ada yang bisa kubanggakan didepan Rianti. Hanya gunungan cinta yang terus mengalir dariku untuknya. Rianti memang sempurna bagiku. Dia melengkapi jutaan celah hitam dalam hidupku. Rianti. Rianti. Rianti. Mengapa kau menghancurkan hari ini? mengapa kau baru jujur sekarang atas perselingkuhanmu? Mengapa harus ditanggal 12 November?
Buk! Buk! Buk! Berkali-kali aku membenturkan kepalaku ketembok. Aku berharap bisa hilang ingatan. Tepatnya bisa menghilangkan kebenciaku pada Rianti. “Sudah mas! Jangan menyiksa diri. Pukul saja aku! Pukul! Aku memang pantas menerimanya. Maafkan aku.” Katanya sambil terisak. Aku melirik kearahnya yang terus memegang tanganku. Begitu cantik. Bagaimana bisa aku melampiaskan amarahku kepadanya. Rianti terlihat lemah, terlia rapuh. “Ah! Aku saja yang terlalu bodoh!” teriak ku. Berusaha berbicara kepada diri sendiri. Setelah beberapa detik aku menarik nafas dalam-dalam. Berusaha menenangkan diri. “Riantiku, istriku. Tidak kah kau sadar seberapa besar pengorbananku untuk membahagiakanmu? Tapi kenapa kau tetap memilih laki-laki itu? Aku memercayaimu seperti laut, tiada habis. Tapi separah itu kau membalasnya. Memang, aku bukan lelaki yang kaya raya. Aku tidak punya rumah bagus, mobil......” “Bukan itu, Mas. Jangan menganggap aku tak mencintaimu. Aku mencintaimu lebih dalam dari yang kamu pikirkan sekarang. Aku akui, aku khilaf. Aku silau akan harta dan janji yang dilemparkan Harun ke arahku. Aku sadar dengan apa yang aku lakukan. Aku menyesal. Aku minta maaf. Aku selalu megecewakanmu. Ya, mengecewakanmu....” Rianti makin terisak. “Aku sangat mengecewakanmu. Aku belum bisa memberimu anak karena penyakit di rahimku. Maafkan aku, Mas.” Aku tak bisa larut melihat tangisannya. Segera aku memeluknya erat, sangat erat. “Tak apa sayang. Aku tetap mencintaimu dengan  segala yang ada didirimu. Tapi apakah semua yang kuberikan padamu tak berguna sampai-sampai kau harus tidur bersamanya? Kalau bukan istri Harun sediri yang meneleponku, mungkin kau akan tetap menipuku, Rianti. Mengapa kau tega?” Rianti tak menjawab. Tangisannya tebenam dalam pelukanku. Aku tahu dia menyesal. Amarahku seketika padam. Tak tega aku melihaknya terus menangis didadaku. Ku akui, aku memang lemah menghadapi istriku. Malam ini lewat begitu aja. Pikiranku ingin sekali melupakan kejadian ini. namun hatiku enggan. Sudahlah, lupakan. Selamat hari ulang tahun pernikahan ke tujuh, Rianti. Kuharap masalah ini bukan hadiah sebenarnya. Semoga saja.
Matahari melompat indah, menggeser gelap yang sedaritadi berkuasa. Sudah jam 7 pagi. Sudah 4 batang rokok yang kuhisap pagi ini. Entah berapa puluh kali ayam peliharaanku berkokok. Sambil menunggu masakan rianti yang ‘katanya’ hampir matang, aku menghitung uang simpananku yang kusembunyikan didalam kotak lemari. Aku berniat untuk menghadiahkannya cincin untuk hari ulang tahunnya lusa, 15 November. Uangku hanya 750.000 rupiah. Semoga saja cukup untuk membelikan hadiah untuknya. Sepulang dari pabrik, akhirnya aku mampir ke toko emas yang tak jauh dari rumahku. Sengan sedikit negoiasi, akhirnya aku mendapatkan cincin cantik yang tak kalah dengan wajah istriku. Sudah terbayang bagaimana wajahnya ketika menerima hadiah dariku.
Hari ulang tahun Rianti akhirnya tiba. Namun semalam dia pamit kepadaku karena ingin kerumah ibunya di bogor. Ibunya sedang sakit. Aku tak dapat ikut karena aku tak bia meninggalkan pekerjaanku. Namun Rianti berjanji besok siang ia akan kembali ke Cikarang. Cincin itu udah kuletakkan dalam kotaknya dengan hiasan pita keemasan yang kubuat sendiri. Agak berantakan memang. Aku berniat memberikan hadiah ketika aku pulang dari pabrik.
Sesampainya dirumah, ternyata istriku belum pulang. Kemana dia? Kutelepon kerumah ibunya, namun beliat bilang istriku tak berkunjung semalam. Rianti membohongiku lagi! Ku telepon teman-temannya, namun tak ada yang tau keberadaannya dimana. Rianti seperti ditelan bumi. Tak tahukan ia bahwa aku sangat khawatir? Apakah ia lupa ini hari ulang tahunnya? Tak tahukah dia bahwa aku menunggunya untuk merayakan ulang tahunnya bersama? Dimana Rianti? Aku menunggunya hingga sangat larut. Sampai jam 2 pagi pun dia belum memberikan kabar. Atau jangan-jangan dia pergi denga nharun lagi? Sial! Kalau itu benar terjadi, akan ku tembak mati si Harun itu!
Tok, Tok, Tok! “Permisi! Selamat pagi!” Aku terbangun karena suara itu. Kuliah jam. “Astaga! Siapa yang bertamu jam 4 pagi. Tidak sopan.” Dengan setengah emosi, kubuka pintu rumahku, ternyata polisi. “Selamat pagi. Apakah anda bapak Pandu?” “Ya, ada masalah apa pagi-pagi begini?” Jawabku emosi. “Apakah Anda mengenal saudari Rianti?” “Tentu. Ada apa dengan itri saya?” “Kami dari pihak kepolisian ingin mengabarkan bahwa kami menemukan mayat istri anda, nyonya Rianti, di kali cikarang, pukul 7 malam tadi.” Ya Tuhan. Apakah mereka mereka bergurau? Apakah aku masih bermimpi? Tolong aku tuhan. Bangunkan aku dari mimpi ini. Akhirnya kedua polisi itu membawaku ke Rs. Annisa Cikarang. Sesampainya di rumah sakir, aku melihat Lisa, istri Harun. Ada apa sebenarnya. Kuhampiri Lisa dengan tergesa-gesa. “Apa yang terjadi? Apakah kematian istriku ada hubungannya denganmu? Jawab!” bentak ku. Seketika Lisa menangis. “Maafkan aku. Harun, Suamiku, telah membunuh istrimu. Aku tak tahu kejadiannya akan sefatal ini. Harun takut aku memergokinya berselingkuh lagi. Polisi menerangkan, Haru melakukannya karena panik.Dia tak ingin kebusukannya terbongkar.”  Ya Tuhan. Ingin sekali aku mencabik-cabik tubuh Harun. Ingin sekali aku menampar wajah itriku. Mengapa dia tega menghianatiku? Aku telah memercayainya lagi. Tapi dia terus menginjak kepercayaanku. Badanku teraa membeku aku bingung apa yang harus aku lakukan. Aku benci istriku berelingkuh dengan orang itu lagi. Tapi aku tak bisa menerima kematian istriku,. Orang yang paling aku cintai. Tuhan memang tak pernah memberikan cobaan melampaui kemampuan hambanya. Tapi jujur, untuk hal ini aku tak sanggup.
Akhirnya, pihak kepolisian telah menyepakati bahwa Harun akan dihukum 15 tahun penjara. Istriku telah dikubur. Dia tertidur dengan cantik. Aku berusaha tegar mengantarnya ketempat peristirahatan terakhirnya, Amarahku mengingat dia berselingkuh seketika hilang, tertutup jutaan cintaku untuknya. Aku harus siap menerima kenyataan. “Tuhan menyayangimu. Karena itu Ia mengambilmu lebih dulu. Aku selalu memaafkanmu, Riantiku. Apapun salahmu, apapun kekhilafanmu. Semuanya aku terima. Teima kasih atas surga yang kau berikan selama tujuh tahun ini. Kau lihat cincin ini? Ini hadiah untukmu. Aku belikan dengan jerih payah ku. Aku yakin kamu menyukainya. Selamat jalan Riantiku, istriku, kupu-kupu indahku. SELAMAT ULANG TAHUN.”


(terinspirasi dari sajak "Kupu Malam dan Biniku" karya Chairil Anwar)

xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx


Pelarian
Malam ini terlihat sepi. Hanya ada aku, dan barang-barang tak berguna di ruang tamu. Sedikitpun tak ada acara menarik di televisi. Suara radio yang sedaritadi bernyanyi pun aku tak peduli. Seketika lamunanku pecah karena jam berdenting keras dua kali. Ya, sudah pukul dua pagi. Lonceng jam berhenti, lamunanku kembali. Tingkah Sita, kekasihku, memang tak karuan akhir akhir ini. Dia seringkali tak menjawab teleponku. Memberi kabarpun tidak. Sungguh jauh berbeda dengan Sita yang setahun lalu bersamaku. Sita yang dulu sungguh perhatian. Terlalu perhatian sampai-sampai makan dan mandipun tak alpa dari teleponnya. Aku rindu Sita yang dulu. Wanita itu kini membebani pikiranku karena tingkah acuhnya. Ingin sekali ku telepon, menanyakan apakah dia sedang memikirkanku seperti aku memikirkannya sekarang? Apakah dia risau seperti aku? Apakah dia menyadari perbedaan sikapnya? Apakah dia merindukanku seperti aku merindukannya? Entahlah. Jutaan pertanyaan dikepalaku akan terus kusimpan sampai siang nanti. Tidak tega aku meneleponnya pagi-pagi buta. Mungkin dia sedang tidur. Mungkin dia menunggu teleponku. Mungkin dia sedang bersama lelaki itu. Ah! Lelaki itu! Mantan pacar Sita ketika SMA. Apa mungkin dia yang membuat sikap Sita berubah? Aku tahu betul Sita masih menyimpan perasaannya sejak SMA hingga kini di bangku kuliah. Ah sudahlah. Setelah beberapa detik, aku tersadar dari lamunan. Kubakar rokok yang sedaritadi bertengger indah dibibirku. Kuhisap dalam-dalam, lalu kuhembuskan asap dengan cekatan, lamunanku kembali. Ya, apapun yang kulakukan, aku teringat Sita. Sita. Sita!
Aku memang lemah soal wanita. Apalagi wanita yang satu ini. Wanita yang sangat aku cintai. Memang sudah banyak masalah yang telah kami hadapi selama berpacaran. Namun menurutku, sekaranglah klimaksnya. Sifatnya berubah sejak ia menceritakan bahwa ia bertemu dengan mantan kekasihnya. sudah dua kali aku mendapati lelaki itu berkunjung kerumah Sita. Sita sendiri yang mengenalkannya kepadaku saat lelaki itu dirumahnya. Awalnya aku berusaha sabar menghadapi perubahan sikapnya yang menjadi pemarah dan mengacuhkanku, tapi lama kelamaan tentu aku merasa gerah. Selama setahun berpacaran jarang sekali ada masalah serius yang membuat kami bertengkar. Mungkin kami pernah bertengkar kecil. Tapi kami bisa menyelesaikannya dengan cepat. Paling lama dua hari. Setelah itu kami pasti baikan dan melupakan masalahnya. Aku sadar, aku tak bisa lama mengacuhkannya saat kami bertengkar. Aku sadar kalau aku membutuhkannya. Aku juga tahu kalau sta juga membutuhkanku. Aku ingat seklai awal kami bertemu. Dia adalah adik kelasku di kampus. Kami berada di jurusan yang sama, Akuntansi. Saat ini, Sita menginjak semester tiga, sedangkan aku telah di semeter tujuh. Awalnya, aku mengalami kesulitan untuk mendekatinya.  Untunglah dengan bantuan adikku, Intan, yang juga merupakan teman sekelas Sita, aku bisa mendekatinya. Entah bagaimana caranya Intan membuat Sita mau berkenalan denganku. Intan pula yang diam-diam merencanakan kencan pertamaku dengan Sita. Intan berpengaruh besar dalam hubunganku dengan Sita. Terkadang Intan menjadi penengah disaat kami punya masalah. Tapi untuk masalah ini, Intan hanya menjadi penasehatku. Dia memintaku untuk tidak termakan cemburu dan tidak berpikir negatif terhadap Sita dan laki-laki itu.
“Sudah pagi, Kak. Kenapa masih disini? Malah bengong. Nanti kesurupan, lho!” “Eh lo belum tidur, dek? Bikin kaget aja lo!” jawabku sambil mengelus dada. “Lha! Lagian jam segini masih bangun. Gue kira maling dari tadi gerasak-gerusuk enggak jelas. Gangguin gue tidur aja sih, Kak.” “Sorry sorry. Belum bisa tidur nih gue. Enggak tau kenapa. Sorry deh kalo sampe ngebangunin lo.” “Oke. Masih mikirin Sita? Aduh kak, tenang aja kali. Dia enggak bakal selingkuh kok. Gue tau banget Sita. Santai aja kak. Gue enggak mungkin salah pilih orang buat lo.” “iya iya. Makasih ya adik ku sayang. Tumben lo ngomong manis banget sama gue. Biasanya boro-boro.” Ucapku sambil mencubit pipi Intan.  “Aduh! Sakit tau! iya yaudah. Gue tidur lagi ya. Masih ngantuk banget nih, kak. Bye.” Perlahan Intan kembali kekamar. Bayangannya lama-kelamaan tertelan, tak terlihat. Setelah beberapa saat, rasa kantuk mulai menghampiriku. Akhirnya kuputuskan untuk kembali ke kamar sebelum Mama memergoki ku begadang lagi. Mama paling tidak suka melihatku begadang terus. Bisa-bisa kepalaku dijitak lalu dia ngomel lama sekali.
Matahari mulai keluar dari perembunyian. Dengan cantik, ia melemparkan cahayanya ke bumi. Menendang gelap yang sebelumnya berkuasa. Ah sudah pagi. Setelah mandi dan sarapan pagi, aku bergegas ke kampus dengan Intan. Kunyalakan mobil, tak lama kemudian Intan duduk di kursi disebelahku dengan tergesa-gesa. “Buruan kak. Gue telat nih. Lupa kalo ada kuliah pagi!” “Ye! Kebiasaan lo!” jawabku sambi menggeleng. Setelah dua puluh menit di perjlanan, akhirnya kami sampai di kampus. Di depan kantin, aku bertemu dengan sita. “Sit, kenapa kamu tak menjawab telepon ku? Kemana saja semalam? Kenapa tak ada kabar? Kamu tak tahu aku khawatir? Apa kamu sedang pergi dengan lelaki itu lagi?” “Apa yang kamu bicarakan? Aku semalaman dirumah, Ryan. Kenapa curiga terus? Aku sibuk dengan tugas kuliah ku.” “Tapi apa susahnya mengangkat teleponku atau sekedar mengabarkan?” “Iya, yan. Maafkan aku. Kamu sudah makan?” “Jangan diulangi lagi. Aku khawatir. Aku sudah sarapan tadi. Bukankah kamu sedang ada kelas? Tadi intan sepertinya buru-buru.” “Dosennya belum lama keluar kelas. Intan selalu saja terlambat.” “Yasudah. Kamu mau makan? Biar aku temenin ya.” Sita memesan bakso yang tempatnya tak jauh dari tempat duduk kami. Sekeliling kantin masih sepi. Mungkin hanya sedikit mahasiswa yang masik pagi hari ini. tiba-tiba ku dengar dering telepon genggam dari tas Sita. Segera ku ambil. Ternata ada sms  dari nomor yang tak dikenal atau sengaja tak diberi nama. Entahlah. Segera kubaca smsnya.



From: 0812130098xxx
Terima kasih untuk  semalam, Sit. Aku senang bisa bertemu denganmu. Apakah nanti malam kau ada acara? Aku mau kerumahmu J
Option                                                  Back
 
 






Sial! Beraninya Sita membohongiku. Nomer siapa ini? mengapa tak diberi nama? Siapa yang bertemu dengan Sita semalam? Apakah lelaki itu? Segera kuhapus smsnya.  Setelah Sita selesai memesan makanannya, ia duduk disampingku. Aku berpura-pura tak terjadi apa-apa. Aku hanya bisa mengepalkan  tanganku, menahan amarah. Aku berusaha menormalkan perasaanku, tetap berpikir positif. Terbersit di pikiranku untuk berkunjung kerumah Sita nanti malam. Mungkin saja aku akan bertemu dengan lelaki itu. Semoga saja lelaki itu benar-benar berkunjung kerumah Sita.lamunanku pecah ketika Sita menyapa. “Hey, kamu kenapa? Kok tiba-tiba mukanya gitu?” “Enggak kok sayang. Makan dulu gih kamu.” Setelah selesai makan, kami segera masuk kelas masing-masing.
            Tepat pukul 7 malam aku tiba dirumah. Seperti niatku sebelumnya, aku akan datang kerumah Sita. Berharap akan bertemu dengan mantan kekasinya disana. Setelah mandi dan ganti baju, aku bergegas menyalakan mobil dan pergi kerumahnya di daerah Mampang, Jakarta Selatan. Perjalanan hampir setengah jam dari rumahku. Akhirnya aku tiba dirumah Sita. Benar saja, ada mobil lain yang lebih dulu parkir didepan rumahnya. Sita memang  tak tahu bahwa aku ingin datang kerumahnya. Dengan cepat aku memasuki rumahnya dan memergoki Sita sedang mengobrol dengan  seseorang. Entah siapa. “Sita.” “Hey, yan. Kamu kok tumben enggak bilang dulumau kerumahku.ada apa, Yan?” “Enggak ada apa-apa kok. Cuma mau main aja. Itu siapa ,Sit?” “uhm. Itu Rudy.” Dadaku berdegup kencang.antara kaget dan menahan amarah. Rudy adalah mantan kekasih sita yang sempat  ia ceritakan waktu itu. Benar aja, ternyata tadi pagi dialah yang SMS Sita. Mengapa Sita tak bilang kalau ada lelaki lain yang berkunjung kerumahnya dan itu mantannya.  Ternyata Sita memang sengaja menyembunyikan hal ini kepadaku. Tega sekali. “Oh Rudy. Maaf aku mengganggu. Aku pulang saja, Sit.” Dengan cepat aku kembali ke mobil dan pulang kerumah. Tak ku hiraukan apa yang Sita bilang pada ku saat aku pulang tadi. Aku hanya fokus pada pikiran dan amarahku.  Sesampainya dirumah, kulihat ada beberap panggilan tak terjawab di telepon genggamku. Seperti dugaanku, Sita yang menelepon. Ulihat pula ada SMS yang ia tinggalkan. “Kenapa kau tiba-tiba pulang? Ada yang harus kujelaskan padamu. Maaf. Mungkin aku mengecewakanmu. Besok kita bicarakan masalah ini di kampus, yan.”
            Keesokan harinya, seperti biasa aku berangkat ke kampus bersama Intan. Diperjalanan, Intan sempat menanyakan masalahku dengan Sita. “kak, ada masalah ya sama Sita? Cowok itu lagi? Sudah lah, kak. Jangan terbawa emosi.” Aku hanya menjawabnya dengan senyuman. Hening. Kuputuskan untuk menyalakan radio di mobil untuk memecah kesunan itu. Akhirnya kami tiba dikampus, aku pun menemui Sita. Dia mengajakku ke kantin. Sesampainya dia dikantin, dia meluapkan kata-kata yang seoertinya sudah ia siapkan sejak semalam. “Maafkan aku, yan. Bukannya aku ingin membohongimu. Bukannya aku ingin menyembunyikan sesuatu darimu. Yang semalam itu, lelaki yang bersamaku, memang Rudy, Mantan kekasihku sewaktu SMA. Akhir-akhir ini kami memang sering berhubungan. Ku akui, memang aku tak pernah bilang padamu. Tba-tiba saja Rudy datang ke kehidupanku lagi. Hati kecilku tak bhisa berbohong aku masih mencintainya, yan. Perasaanku belum hilang kepada Rudy. Aku tak berniat untuk memainkan perasaanmu. Aku tahu bahwa kamu benar-benar mencintaiku. Aku juga mencintaimu, yan. Tapi ini pilihan yang sangat sulit untukku. Aku sudah tak bisa menyembunyikan apapun dari mu sekarang. Maafkan aku, Yan. Mungkin kau menganggap ku hanya menjadikan mu sebagai pelarian. Terserah lah kau mau menganggap apa. Aku hanya bisa meminta maaf kepadamu.” Dadaku berdegup kencang. Aku tak bisa menyalahkannya. Aku tak bisa memaksakan perasaannya.  “baiklah, Sit. Cinta memang tak bisa dipaksakan. Aku tak bisa memaksamu terus bersama ku selama ada laki-laki itu. Mungkin ini sangat berat bagiku. Aku sadar, aku harus merelakan mu. Aku juga ingin melihatmu bahagia. Walaupun bukan denganku. Maafkan aku, mungkin aku belum bisa menjadi kekasih yang baik untuk mu. Belum bisa membuatmu lupa kepada masa lalumu. Terima kaih untuk semua yang pernah kamu berikan. Aku sangat senang pernah menjadi bagian dari hidupmu, walaupun hanya sebagai pelarian. Baiklah, mulai sekarang kita ambil jalan masing-masing. Kita putus . semoga saja kau bisa bahagia dengan Rudy.” “Terima kasih,Yan. Kau memang lelaki yang baik. aku mendoakan yang terbaik utuk mu. Diluar sana masih banyak perempuan baik yang akan menemanimu. Terima kasih untuk segalanya. “
            Hari ini ditutup dengan hal yang sebenarnya hampir membuatku menangis. Entah menangis karena sedih ditinggal oleh Sita. Atau menangis terharu karena akhirnya orang yang ku cintai mendapat kebahagiaanya. Bagaimanapun caranya, aku harus ikhlas. Aku harus senang melihat Sita baghagia. Benar kata pepatah, cinta tak harus memiliki. Tapi ia harus tau, apapun yang terjadi, bagaimanapun nanti, aku akan tetap disini untuknya. Menunggunya. Terima kasih, Sita.


(terinspirasi dari sajak "Pelarian" karya Chairil Anwar)                     SovaSakinah



Tidak ada komentar:

Posting Komentar