Cerpen dibawah ini bisa dibilang merupakan Rekayasa teks, yang sebelumnya berbentuk Puisi yang dikarang oleh Chairil Anwar dalam buku puisi 9"Yang Terhempas dan Yang Putus)
ada 4 cerpen yang saya buat. semoga berguna sebagai media pembelajaran anda!
BERCERAI
Kegaduhan dirumahku
belum berhenti. Kegaduhan yang kami buat. Aku dan Rahmi, istriku. Seperti
malam-malam kemarin. Kami ribut karena perkara rumah tangga. Entah karena aku
pulang terlalu malam, atau karena dia yang sibuk dengan pekerjaannya sebagai
seorang penulis, hingga dia tak sempat mengurus rumah dan melakukan
kewajibannya sebagai seorang istri. Sudah tiga tahun kami menikah. Namun hingga
sekarang belum dikaruniai seorang anak. Mungkin Tuhan berkehendak lain. Pasti
Dia merencanakan yang terbaik untukku dan istriku.
Malam ini kami
bertengkar karena istriku terlalu sibuk dengan pekerjaannya. Seharian ia
berkutat dengan laptop di kamar. Sampai-sampai saat aku pulang, dia tak sadar.
Dia tak lagi memerhatikanku seperti awal kami menikah. Semakin lama, aku
semakin sadar bahwa ia gila akan pekerjaannya. Banyak sekali kertas bertebaran
di kamar tidur kami. Rahmi juga terlihat sangat berantakan. Mungkin ia lelah.
Tapi apakah harus tiap hari seperti ini? aku seperti tak memiliki istri. “Mi,
apakah kau tak berniat menyambutku pulang? Lelah sekali aku seharian mengaar
dan memeriksa lembar jawaban di sekolah. Tapi kau sepeti tak peduli. Mana
kewajibanmu, Mi?” tanyaku tegas. “Maafkan aku, Mas. Sungguh, kau harus mengerti
pekerjaanku ini. jangan sedikit-sedikit mengeluh. “ Berani sekali dia berbicara
seperti itu denganku. “Sudah lama aku membiarka mu sibuk dengan pekerjaan mu
yang tidak jelas itu. Mana hasilnya? Mana buku yang kau buat? Mana novel yang
kau ciptakan? Tak terlihat sampai sekarang.” Pernyataanku membuat wajah Rahmi
sedikit emosi. “Apakah penghasilanku sebagai guru kurang mencukupi bagimu sampai-sampai
kau juga harus bekerja, berkutat dengan tulisanmu yang tak kunjung selesai!” “Apa?
Tak kunjung selesai? Jangan remehkan pekerjaanku, Mas! Ini bukan sekedar untuk
mencari uang. Aku tak merasa kurang dengan apa yang kau berikan. Tapi hal yang
aku hasilkan lebih dari itu. Aku suka menulis. Hidupku untuk menulis, Mas!”
“Aku lelah jika harus terus mengerti. Kau harus sadar, ada suami yang harus kau
urus, yang kau sambut ketika pulang kerja, ada rumah yang harus kau tata. Tak
seperti ini. semuanya berantakan. Mana kewajibanmu sebagai istri!” hingga malam
kami berdebat. Sampai akhirnya kami lelah dan memutuskan untuk berhenti
berbicara. Beberapa jam berlalu dan tak ada sepatah kata pun yang kami ucapkan
lagi.
Mentari mulai muncul
dari persembunyiannya dan membentangkan cahaya. Hangat. Aku tengah bersiap
untuk mengajar disekolah. Seperti biasa, ak menyiapkan sarapanku sendiri.
Istriku masih tertidur lelap dikamar. Mungkiin ia kelelahan setelah semalaman
menulis. Segera kunyalakan motorku, dan berangkat ke sekolah Tunas Mulia,
tempatku mengajar. Aku mengajar mata pelajaran kesenian disekolah ini. Aku
mencitai seni. Seni adalah cinta. Karena itu aku mengajar dengan sepenuh hati
menebarkan seni yang terbalut cinta untuk murid-muridku. Hari ini kelaku membahas
seni musik. Karena itu aku sengaja membawa biolaku ituk dimainkan dikelas.
Biola yang cukup tua. Diturunkan oleh ayahku yang sebelumnya diberikan dari
kakek ku. Keluarga ku memang pecinta musik. Kubuka tempat biolaku. Seketika
kumainkan biola ini dengan lihai. Aku sengaja memainkan lagu romance de amour. Lagu ini
mengingatkanku kepada ayahku. Lagu inilah lagu yang pertama ia tunjukkan
kepadaku. Lagu ini yang membuatku ingin
mempelajari biola. Lagu ini yang membuatku jatuh cinta kepada musik. Aku
larut dalam permainan biolaku sendiri. Hanya ayah yang terbayang di pikiranku
saat memainkan lagu ini. terbayang wajah hangatnya ketik engajarkanku.
Terbayang saat pertama kali i menggesekkan biolanya. Seketka lamunanku terpecah
saat mendengar tepuk tangan dari murid-murid dikelasku. Lagu itu telah selesai
kumainkan. Aku tak menyadari sedari tadi murid-muridku terpukau mendengarkanku
bermain biola. Kegiatan mengajar hari ini berjalan lancar seperti biasa. Aku
bergegas kembali ke mejaku di ruang guru dan memeriksa hasil ujian semester
kemarin. Mungkin hari ini aku akan pulang malam lagi. Banyak sekali hasil
ulangan yang harus aku periksa dan masih ada data yang harus kususun
selanjutnya. Ah! Hari ini terasa sangat lama. Beberapa meniit berlalu, diganti
dengan jam. Sudah 4 jam aku emeriksa hasil ujian anak-anak dan merapikan meja
kerjaku. Ya, saatnya pulang. Jam di tangan kiriku sudah menunjukkan pukul 7
malam. Akhirnya kuputuskan untuk pulang. Tapi niatku berbelok ketika ku
mengingat isteriku. Pasti ia sedang sibuk dengan novel yang sedang ia buat.
Pasti dia juga tak sempat mebuatkanku makanan. Kuputuskan untuk ampir ke restoran
cepat saji didekat rumahku.
Setelah kurang lebih
dua puluh menit perjalanan ku, akhirnya aku tiba di restoran cepat saji.
Seorang pelayan yang ramah menyapaku dengan sigap didepan pintu yang memiliki
hiasan sedikit norak. “Selamat malam,
bapak. Selamat datang di restoran kami.” “Ya, terima kasih.” Jawabku. Didalam
restoran ini hanya ada sepasang muda-mudi dan aku. Sepi sekali. Tak seperti
restoran lainnya yang berada di sebrang restoran ini ataupun disampingnya. Aku
segera ke kasir dan bergegas memesan makanan. Saat mulutku bar ingin bicara,
penjaga kasir menyapaku lebih dulu. “Selamat malam, Pak. Mau pesan apa? Ada
paket terbaru di restoran kami. Ayam goreng, nasi, sup dan puding. Apa bapak
mau mencobanya?” dengan sangat terpaksa aku menangguk setuju. Aku malas untuk
melihat menu lainnya, dan ingin bergegas pulang. “Oke yang itu saja. Pesan dua
ya. Take away saja.” “Terima kasih pak. Totalnya delapan puluh ribu rupiah.”
Setelah selesai mebayar, aku enunggu di kursi pojok yang tak jauh dari kasir. Hanya membutuhkan sekitar
lima belas menit, makananku sudah datang, dan aku segera kembali ke rumah.
Sesampainya di rumah,
seperti dugaanku, istriku masih berkutat dengan laptop dikamar kami. Dia terlihat
begitu lelah, namun wajahnya sangat bersemangat. Bak anak kecil yang sedang
bermain di bak pasir. “selamat malam. Kau terlihat lelah sekali.” “dari mana
saja, mas? Kenapa kau pulang malam terus? Aku tahu betul seharusnya kau pulang
sore dari sekolah. Tapi kenapa selal malam?” lho? Ada apa ini? mengapa istriku berubah ketus seperti ini. apakah dia tidak
sadar aku lelah sekali sepulang mengajar. Mengapa ia begitu kasar. “Ada apa
dengan mu, Rahmi? Harusnya kau menyambutku. Bukan malah menanggapi ku dengan
ketus seperti itu.” “Ah sudah lah, Mas. Aku tahu betul, kamu sudah berbeda
sekarang. Pulang malam terus. Kamu juga tidak serahah dulu dengan istrimu ini.
aku salah sedikit saja, kamu membentak. Kamu juga tak pernah mengerti akan
pekerjaanku ma. Kamu hanya meremehkan aku. Sebagai suami, tak pernah kulihat
dukungan darimu, Mas! Apakah sebenarnya ada perempuan lain diluar sana?!” “Jaga
bicaramu, Mi! Kau sudah gila ya? Aku baru pulang bekerja, kau seenaknya
menuduhku macam-macam! Kau pun tahu, terkadang banyak pekerjaan yang harus aku
selesaikan disekolah. Aku kira kau sudah tak peduli denganku lagi. Kau terlalu
sibuk dengan duniamu sendiri. Terlu sibuk dengan tulisanmu yang tak kunjung
selesai itu! Yang tak pernah enghasilkan apapun!” Jawabku dega penuh amarah.
Kusadari wajah Rahi memerah. Mungkin aku membuat emosinya memuncak. “Terus saja
kau rendahkan pekerjaanku. Terus saja kau rendahkan hobiku. Kapan kau bisa menghargai
ku, Mas! Aku lelah seperti ini terus. Kita sangatlah berbeda. Akusadar, aku
bukan istri yang baik. bukan istri yang bisa terus mengurus suaminya. Bukan
istri yang membahagiakan mu. Bukan istri yang memberikanmu kebahagiaan dan
seorang anak. Ceraikan saja aku, Mas. Tolong, ceraikan aku!” Dadaku berdegup
kencang. Aku melihat keseriusan Rahmi ketika mengucapkan hal itu. Dia ingin aku
ceraikan. Setelah beberapa saat aku berpikir, akhirnya mulutku bergerak.
“Baiklah, Mi. Jika itu yang kau inginkan. Jika itu yang selama ini kamu
harapkan. Aku tak bisa menolak. Aku juga sadar. Aku bukanlah seorang suami yang
baik untuk mu. Aku terlalu membatasimu. Aku mungin juga belum bisa mengantarkan
sebongkah kebahagian untukmu. Banyak sekali perbedaan diantara kita. Aku juga
mengerti bahwa kamu menginginkan kebebasan. Tak apa sebenarnya jika kau belum
bisa menghadiahkan malaikat kecil untuk kita. Itu kehendak Tuhan,Mi. Itu bukan
masalah untukku. Baiklah, kita cerai.” Mata rahmi sungguh berkaca-kaca.
Akhirnya mata indah itu tak dapat membendung airmatanya. Rahmi menangis. Aku
juga ingin menangis, tapi aku harus kuat. Ini keputusan kami. Bukanlah
keputusan sepihak. Mungkin Tuhan merencanakan hal yang lebih baik untuk aku dan
Rahmi. Aku segera memeluknya. Tak apalah, semoga ini yang terbaik untuk kita.
Semoga ada rangkaian kata indah untuk masa depan kami. Terima kasih, Rahmi.
Terima kasih atas jembatan singkat nan indah yang sempat kau berikan untuk ku.
Aku berharap kebahagiaan selalu memayungi langkah mu. Kita harus saling
mendukung dan berdoa untuk kebahagiaan kita di kehidupan masing-masing.
(Terinspirasi dari sajak "Bercerai" Karya Chairil Anwar) SovaSakinah
XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX
HAMPA
HARI PERTAMA
Sepatu usang ku terus
berjalan melewati rumput di taman kota Jakarta. Sore ini begitu sepi. Setelah
beberapa menit, akhirnya aku tiba di bangku taman yang beratapkan pohon
rindang. Semakin sepi. Mungkin karena letaknya agak jauh dari jalan raya.
Mungkin karena jarang sekali yang melewati taman ini. atau mungkin orang
Jakarta terlalu sibuk sampai-sampai ia tidak tahu ada taman disini. Mungkin.
Ces! Korek apiku
segera membakar rokok yang sedari tadi bertengger dibibirku. Bibirku sibuk
membentuk asap dari hembusannya. Hembusan pertama, terbayang olehku wajah
wanita cantik. Wanita yang menjadi tujuanku sehingga aku bisa ampai di taman
ini. Sri. Wanita yang aku kenal di pasar malam di daerah kalibata 1 bulan yang
lalu. Dia berjanji akan menemuiku di taman ini sebulan kemudian setelah
pertemuan kita. Aku lelaki yang pastinya menepati janji. Kuputuskan untuk
menunggu di taman ini.
Kubayangkan wajah Sri
saat pertama kali kami bertemu. Begitu cantik. Begitu teduh. Mungkin itu yang
membuat aku tiba-tiba jatuh hati padanya. Rambutnya panjang ter urai. Matanya
bulat. Bibirnya tipis. Pipinya merah jambu. Indah sekali kamu, Sri. Di pasar
malam itu, akhirnya aku memutuskan untuk berkenalan dengannya tanpa berpikir
panjang. Ya mungkin ini cinta pada pandangan pertama, atau apalah namanya.
Lima jam terlewat begitu saja. Aku masih
menunggu Sri datang. Tapi dia belum tampak. Kusarari sudah dua bungkus rokok ku
habis. Kali ini kuputuskan untuk plang. Sepertinya juga ia tak mungkin datang
jam sepuluh malam. Aku juga sudah terlalu lelah. Mungkin besok aku akan
kembali. Menunggu Sri datang. Semoga saja ia datang.
HARI KEDUA
Tepat pukul lima aku
tiba di taman ini lagi. Entah taman apa namanya. Aku hanya ingat didepannya ada
sebuah kantor pos yang juga sepi. Satu, dua, empat, delapan, sepuluh. Tepat
sepuluh langkah akhirnya aku sampai dibangku taman. Seperti kemarin. Taman ini
nampak sepi. Kulihat seekor tupai yang lewat dengan cepat. Sekejap tupai itu
menghilang. Kusadari sekelilingku cukup indah. Taman ini begitu apik. Begitu
begitu tenang. Lapangannya teduh. Hanya ada bayangan pohon besar yang tertimpa
matahari membentuk celah-celah kecil. Srek, srek, srek. Lamunanku pecah oleh
suara itu. Ternyata ada seorang nenek tengah menyapu dedaunan kering diatas
tanah. Entah darimana datangnya. Mungkin rumahnya di sekitar sini. Entahlah.
Setelah beberapa
menit tiba di taman, kuptukan untuk mengambil rokok di saku ku. Dengan lincah
jemariku memindahkan rokok itu ke bibir dan membakarnya. Ya mungkin hanya ini
yang bisa ku lakukan untuk menunggu Sri. Hanya ditemani oleh rokok dan
sekumpulan makhluk hidup di taman ini. Sampai akhirnya kusadari, telah dua jam
aku menunggunya. Badanku pegal. Ingin bergerak. Ingin pulang. Tapi tak bisa
kutinggal. Aku masih menunggu Sri. Dia pasti datang. Hari ini pasti datang.
Jika bukan hari ini, mungkin besok, atau mungkin lusa, mungkin juga Sri tak
akan datang.
HARI KETIGA
Seperti kemarin dan
sebelumnya, aku tiba di taman sunyi itu. Berharap Sri menepati janjinya. Ingin
sekali ku mematahkan kepercayaanku padanya, tapi tak kuasa bila ku ingat
senyumnya ketika berkata “Tunggu aku di taman dekat pos Simanjuntak. Jika tak
terhalang, pastilah bulan depan kita bertemu.” Ya, hanya senyum itu yang
membuatku sabar menunggu. Entah mengapa aku terlalu yakin oleh wanita ini. sebelumnya
tak pernah aku memercayai wanita sedalam ini. tak pernah aku menepati janji.
Andai Sri tau kalau dia lah satu-satunya yang membuatku penasaran. Aku sangat
yakin Sri lah jodohku. Sri lah wanita yang akan menjadi istriku kelak. Yang
akan menjadi ibu dari anak-anak ku nanti. Mungkin ini gila. Apalagi hanya
sekali aku bertemu dengannya di pasar malam. Tapi sudah jutaan mimpiku ku
gantungkan padanya. Ah mungkin aku benar-benar gila.
Hari ini aku sengaja
membawa koran yang sebelumnya aku beli di terminal Kampung Melayu. Mungkin ini
bisa mengurangi kejenuhanku saat menunggu. Ku buka koran itu. Halaman mukanya
membuat ku sedikit tertawa. Pembunuhan disana-sini. Korupsi bertebaran. Rakyat
miskin meronta-ronta kelaparan. Sebenarnya apa yang dilakukan pemimpin negara
ini. jika akhirnya kesengsaraan dan ketidak amanan yang mereka berikan,
sesungguhnya mungkin aku bisa menjadi pemimpin negara yang bekerja dengan mata
tertutup. Lucu sekali negara ini.di negaranya sendiri, rakyatnya saja merasa
tidak aman, tidak sejahtera. Berani keluar rumah larut malam saja, mungkin
mereka sudah di rampok, lalu dibunuh. Ah sudh lah. Itu bukan urusanku.
Sudah habis koran itu
ku baca. Ku lipat dan ku mainkan seperti sebuah tongkat. Kupukul berulang kali
ke bangku taman. Sambil ku melihat sekeliling. Berharap Sri datang. Namun
pemandangan masih sepi. Hanya ada beberapa kendaraan yang lalu lalang. Entah
sudah berapa jam aku menunggu. Yang aku tahu, hari sudah mulai gelap. Sepertinya
aku harus pulang. Aku bukan lelah, tapi bosan. Apa yang ada dipikiran Sri saat
berjanji kepadaku. Apakah dia hanya main-main? Entahlah. Aku tetap pada
keyakinanku bahwa Sri adalah masa depanku. Mungkin hingga beberapa hari kedepan
aku akan menunggunya di taman ini. Mungkin beberapa minggu. Atau beberapa
bulan. Entahlah. Yakinku, Sri pasti akan datang. Entah kapan.
(terinspirasi dari sajak "Hampa" karya Chairil Anwar) SovaSakinah
XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX
KUPU MALAM DAN BINIKU
Prak! Tamparan itu
mendarat di pipi Rianti, istriku. Tamparan keras itu berasal dari tangan
kananku yang sedari tadi kaku karena menjadi tumpuan amarahku. “Maafkan aku,
mas. Aku tak bermaksud berkhianat” Hanya kalimat itu yang terucap berulang kali
dari bibir istriku yang sedikit berdarah. Sebenarnya aku tak tega. Ingin ku
menghapus air matanya dan memeluknya. Batinku mendorong, tapi ragaku menolak.
Sudah dua tahun belakangan ini aku menahan amarah. Sejak dua tahun terakhir
sikapnya berubah. Ia tak lagi menyambutku dimalam hari ketika pulang, tak pula
menyiapkan air panas setelahnya. Dia jarang sekali dirumah. Awalnya aku tidak
curiga. Mungkin ia pergi mengunjungi rumah ibunya di Bogor dan lupa memberi kabar.
Tapi hal ini larut, hingga ku curiga menanyakan Ibu mertuaku, namun ia tidak
disana. Aku juga bertanya kepada teman terdekatnya dan tetanggaku. Namun
hasilnya nihil.
Mungkin Rianti tidak
sadar, hari ini, tanggal 12 November adalah hari ulangtahun pernikahan kami
yang ketujuh. Tak terasa sudah tujuh tahun aku bersamanya, sejak tanggal 12
November 1983. Ya mungkin karena aku terlalu menikmati saat-saat indah kami,
dan tentunya aku tak ingin kehilangan waktu sedetikpun untuk bersamanya hingga
waktu terasa sangat cepat. Aku sadar, tak banyak kebahagiaan yang kuberikan
kepada Rianti sejak awal menikah. Aku bukan lelaki yang kaya raya. Hanya rumah
kecil nan sederhana yang dapat aku berikan kepadanya ketika ulang tahun
pernikahan kami yang kedua. Sebelumnya memang kami menumpang dirumah orang tua
ku samil aku menabung untuk membeli rumah sendiri. Mobil mewah juga tak
kupunya. Hanya motor butut yang biasa ku gunakan untuk mengantar Rianti ke
pasar. Aku bersyukur memiliki istri sepertinya. Rianti begitu cantik, pintar,
sabar. Keluarganya juga merupakan keluarga terpandang di Bogor. Mungkin karena
itu almarhum Ayah Rianti awalnya tidak menyetujui aku menikahi anaknya.
Pekerjaanku juga bisa dibilang rendahan. Aku hanya seorang buruh di pabrik
rokok cikarang. Tak ada yang bisa kubanggakan didepan Rianti. Hanya gunungan
cinta yang terus mengalir dariku untuknya. Rianti memang sempurna bagiku. Dia
melengkapi jutaan celah hitam dalam hidupku. Rianti. Rianti. Rianti. Mengapa
kau menghancurkan hari ini? mengapa kau baru jujur sekarang atas
perselingkuhanmu? Mengapa harus ditanggal 12 November?
Buk! Buk! Buk!
Berkali-kali aku membenturkan kepalaku ketembok. Aku berharap bisa hilang
ingatan. Tepatnya bisa menghilangkan kebenciaku pada Rianti. “Sudah mas! Jangan
menyiksa diri. Pukul saja aku! Pukul! Aku memang pantas menerimanya. Maafkan
aku.” Katanya sambil terisak. Aku melirik kearahnya yang terus memegang
tanganku. Begitu cantik. Bagaimana bisa aku melampiaskan amarahku kepadanya.
Rianti terlihat lemah, terlia rapuh. “Ah! Aku saja yang terlalu bodoh!” teriak
ku. Berusaha berbicara kepada diri sendiri. Setelah beberapa detik aku menarik
nafas dalam-dalam. Berusaha menenangkan diri. “Riantiku, istriku. Tidak kah kau
sadar seberapa besar pengorbananku untuk membahagiakanmu? Tapi kenapa kau tetap
memilih laki-laki itu? Aku memercayaimu seperti laut, tiada habis. Tapi separah
itu kau membalasnya. Memang, aku bukan lelaki yang kaya raya. Aku tidak punya
rumah bagus, mobil......” “Bukan itu, Mas. Jangan menganggap aku tak mencintaimu.
Aku mencintaimu lebih dalam dari yang kamu pikirkan sekarang. Aku akui, aku
khilaf. Aku silau akan harta dan janji yang dilemparkan Harun ke arahku. Aku
sadar dengan apa yang aku lakukan. Aku menyesal. Aku minta maaf. Aku selalu
megecewakanmu. Ya, mengecewakanmu....” Rianti makin terisak. “Aku sangat
mengecewakanmu. Aku belum bisa memberimu anak karena penyakit di rahimku.
Maafkan aku, Mas.” Aku tak bisa larut melihat tangisannya. Segera aku
memeluknya erat, sangat erat. “Tak apa sayang. Aku tetap mencintaimu
dengan segala yang ada didirimu. Tapi
apakah semua yang kuberikan padamu tak berguna sampai-sampai kau harus tidur
bersamanya? Kalau bukan istri Harun sediri yang meneleponku, mungkin kau akan
tetap menipuku, Rianti. Mengapa kau tega?” Rianti tak menjawab. Tangisannya tebenam
dalam pelukanku. Aku tahu dia menyesal. Amarahku seketika padam. Tak tega aku
melihaknya terus menangis didadaku. Ku akui, aku memang lemah menghadapi
istriku. Malam ini lewat begitu aja. Pikiranku ingin sekali melupakan kejadian
ini. namun hatiku enggan. Sudahlah, lupakan. Selamat hari ulang tahun
pernikahan ke tujuh, Rianti. Kuharap masalah ini bukan hadiah sebenarnya.
Semoga saja.
Matahari melompat
indah, menggeser gelap yang sedaritadi berkuasa. Sudah jam 7 pagi. Sudah 4 batang
rokok yang kuhisap pagi ini. Entah berapa puluh kali ayam peliharaanku
berkokok. Sambil menunggu masakan rianti yang ‘katanya’ hampir matang, aku
menghitung uang simpananku yang kusembunyikan didalam kotak lemari. Aku berniat
untuk menghadiahkannya cincin untuk hari ulang tahunnya lusa, 15 November.
Uangku hanya 750.000 rupiah. Semoga saja cukup untuk membelikan hadiah
untuknya. Sepulang dari pabrik, akhirnya aku mampir ke toko emas yang tak jauh
dari rumahku. Sengan sedikit negoiasi, akhirnya aku mendapatkan cincin cantik
yang tak kalah dengan wajah istriku. Sudah terbayang bagaimana wajahnya ketika
menerima hadiah dariku.
Hari ulang tahun
Rianti akhirnya tiba. Namun semalam dia pamit kepadaku karena ingin kerumah
ibunya di bogor. Ibunya sedang sakit. Aku tak dapat ikut karena aku tak bia
meninggalkan pekerjaanku. Namun Rianti berjanji besok siang ia akan kembali ke
Cikarang. Cincin itu udah kuletakkan dalam kotaknya dengan hiasan pita keemasan
yang kubuat sendiri. Agak berantakan memang. Aku berniat memberikan hadiah
ketika aku pulang dari pabrik.
Sesampainya dirumah,
ternyata istriku belum pulang. Kemana dia? Kutelepon kerumah ibunya, namun
beliat bilang istriku tak berkunjung semalam. Rianti membohongiku lagi! Ku
telepon teman-temannya, namun tak ada yang tau keberadaannya dimana. Rianti
seperti ditelan bumi. Tak tahukan ia bahwa aku sangat khawatir? Apakah ia lupa
ini hari ulang tahunnya? Tak tahukah dia bahwa aku menunggunya untuk merayakan
ulang tahunnya bersama? Dimana Rianti? Aku menunggunya hingga sangat larut.
Sampai jam 2 pagi pun dia belum memberikan kabar. Atau jangan-jangan dia pergi
denga nharun lagi? Sial! Kalau itu benar terjadi, akan ku tembak mati si Harun
itu!
Tok, Tok, Tok!
“Permisi! Selamat pagi!” Aku terbangun karena suara itu. Kuliah jam. “Astaga!
Siapa yang bertamu jam 4 pagi. Tidak sopan.” Dengan setengah emosi, kubuka
pintu rumahku, ternyata polisi. “Selamat pagi. Apakah anda bapak Pandu?” “Ya,
ada masalah apa pagi-pagi begini?” Jawabku emosi. “Apakah Anda mengenal saudari
Rianti?” “Tentu. Ada apa dengan itri saya?” “Kami dari pihak kepolisian ingin
mengabarkan bahwa kami menemukan mayat istri anda, nyonya Rianti, di kali
cikarang, pukul 7 malam tadi.” Ya Tuhan. Apakah mereka mereka bergurau? Apakah
aku masih bermimpi? Tolong aku tuhan. Bangunkan aku dari mimpi ini. Akhirnya
kedua polisi itu membawaku ke Rs. Annisa Cikarang. Sesampainya di rumah sakir,
aku melihat Lisa, istri Harun. Ada apa sebenarnya. Kuhampiri Lisa dengan
tergesa-gesa. “Apa yang terjadi? Apakah kematian istriku ada hubungannya
denganmu? Jawab!” bentak ku. Seketika Lisa menangis. “Maafkan aku. Harun,
Suamiku, telah membunuh istrimu. Aku tak tahu kejadiannya akan sefatal ini.
Harun takut aku memergokinya berselingkuh lagi. Polisi menerangkan, Haru
melakukannya karena panik.Dia tak ingin kebusukannya terbongkar.” Ya Tuhan. Ingin sekali aku mencabik-cabik
tubuh Harun. Ingin sekali aku menampar wajah itriku. Mengapa dia tega
menghianatiku? Aku telah memercayainya lagi. Tapi dia terus menginjak
kepercayaanku. Badanku teraa membeku aku bingung apa yang harus aku lakukan.
Aku benci istriku berelingkuh dengan orang itu lagi. Tapi aku tak bisa menerima
kematian istriku,. Orang yang paling aku cintai. Tuhan memang tak pernah
memberikan cobaan melampaui kemampuan hambanya. Tapi jujur, untuk hal ini aku
tak sanggup.
Akhirnya, pihak
kepolisian telah menyepakati bahwa Harun akan dihukum 15 tahun penjara. Istriku
telah dikubur. Dia tertidur dengan cantik. Aku berusaha tegar mengantarnya
ketempat peristirahatan terakhirnya, Amarahku mengingat dia berselingkuh
seketika hilang, tertutup jutaan cintaku untuknya. Aku harus siap menerima
kenyataan. “Tuhan menyayangimu. Karena itu Ia mengambilmu lebih dulu. Aku
selalu memaafkanmu, Riantiku. Apapun salahmu, apapun kekhilafanmu. Semuanya aku
terima. Teima kasih atas surga yang kau berikan selama tujuh tahun ini. Kau
lihat cincin ini? Ini hadiah untukmu. Aku belikan dengan jerih payah ku. Aku
yakin kamu menyukainya. Selamat jalan Riantiku, istriku, kupu-kupu indahku.
SELAMAT ULANG TAHUN.”
(terinspirasi dari sajak "Kupu Malam dan Biniku" karya Chairil Anwar)
xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx
Pelarian
Malam ini terlihat sepi. Hanya ada aku, dan
barang-barang tak berguna di ruang tamu. Sedikitpun tak ada acara menarik di
televisi. Suara radio yang sedaritadi bernyanyi pun aku tak peduli. Seketika
lamunanku pecah karena jam berdenting keras dua kali. Ya, sudah pukul dua pagi.
Lonceng jam berhenti, lamunanku kembali. Tingkah Sita, kekasihku, memang tak
karuan akhir akhir ini. Dia seringkali tak menjawab teleponku. Memberi kabarpun
tidak. Sungguh jauh berbeda dengan Sita yang setahun lalu bersamaku. Sita yang
dulu sungguh perhatian. Terlalu perhatian sampai-sampai makan dan mandipun tak
alpa dari teleponnya. Aku rindu Sita yang dulu. Wanita itu kini membebani
pikiranku karena tingkah acuhnya. Ingin sekali ku telepon, menanyakan apakah
dia sedang memikirkanku seperti aku memikirkannya sekarang? Apakah dia risau
seperti aku? Apakah dia menyadari perbedaan sikapnya? Apakah dia merindukanku
seperti aku merindukannya? Entahlah. Jutaan pertanyaan dikepalaku akan terus
kusimpan sampai siang nanti. Tidak tega aku meneleponnya pagi-pagi buta.
Mungkin dia sedang tidur. Mungkin dia menunggu teleponku. Mungkin dia sedang
bersama lelaki itu. Ah! Lelaki itu! Mantan pacar Sita ketika SMA. Apa mungkin
dia yang membuat sikap Sita berubah? Aku tahu betul Sita masih
menyimpan perasaannya sejak SMA hingga kini di bangku kuliah. Ah sudahlah. Setelah beberapa detik, aku tersadar dari
lamunan. Kubakar rokok yang sedaritadi bertengger indah dibibirku. Kuhisap
dalam-dalam, lalu kuhembuskan asap dengan cekatan, lamunanku kembali. Ya,
apapun yang kulakukan, aku teringat Sita. Sita. Sita!
Aku memang lemah soal wanita. Apalagi wanita yang satu
ini. Wanita yang sangat aku cintai. Memang sudah banyak masalah
yang telah kami hadapi selama berpacaran. Namun menurutku, sekaranglah klimaksnya.
Sifatnya berubah sejak ia menceritakan bahwa ia bertemu dengan mantan
kekasihnya. sudah dua kali aku mendapati lelaki itu berkunjung kerumah Sita. Sita
sendiri yang mengenalkannya kepadaku saat lelaki itu dirumahnya. Awalnya aku
berusaha sabar menghadapi perubahan sikapnya yang menjadi pemarah dan
mengacuhkanku, tapi lama kelamaan tentu aku merasa gerah. Selama setahun
berpacaran jarang sekali ada masalah serius yang membuat kami bertengkar. Mungkin
kami pernah bertengkar kecil. Tapi kami bisa menyelesaikannya dengan cepat.
Paling lama dua hari. Setelah itu kami pasti baikan dan melupakan masalahnya.
Aku sadar, aku tak bisa lama mengacuhkannya saat kami bertengkar. Aku sadar
kalau aku membutuhkannya. Aku juga tahu kalau sta juga membutuhkanku. Aku ingat
seklai awal kami bertemu. Dia adalah adik kelasku di kampus. Kami berada di
jurusan yang sama, Akuntansi. Saat ini, Sita menginjak semester tiga, sedangkan
aku telah di semeter tujuh. Awalnya, aku mengalami kesulitan untuk
mendekatinya. Untunglah dengan bantuan
adikku, Intan, yang juga merupakan teman sekelas Sita, aku bisa mendekatinya.
Entah bagaimana caranya Intan membuat Sita mau berkenalan denganku. Intan pula
yang diam-diam merencanakan kencan pertamaku dengan Sita. Intan berpengaruh
besar dalam hubunganku dengan Sita. Terkadang Intan menjadi penengah disaat
kami punya masalah. Tapi untuk masalah ini, Intan hanya menjadi penasehatku.
Dia memintaku untuk tidak termakan cemburu dan tidak berpikir negatif terhadap
Sita dan laki-laki itu.
“Sudah
pagi, Kak. Kenapa masih disini? Malah bengong. Nanti kesurupan, lho!” “Eh lo belum tidur, dek? Bikin kaget aja lo!” jawabku sambil
mengelus dada. “Lha! Lagian jam segini masih bangun. Gue kira maling dari tadi gerasak-gerusuk enggak jelas. Gangguin gue tidur aja sih, Kak.” “Sorry sorry. Belum bisa tidur nih gue. Enggak tau kenapa. Sorry deh kalo sampe ngebangunin lo.”
“Oke. Masih mikirin Sita? Aduh kak, tenang aja kali. Dia enggak bakal selingkuh
kok. Gue tau banget Sita. Santai aja kak. Gue enggak mungkin salah pilih orang
buat lo.” “iya iya. Makasih ya adik ku sayang. Tumben lo ngomong manis banget
sama gue. Biasanya boro-boro.” Ucapku sambil mencubit pipi
Intan. “Aduh! Sakit tau! iya yaudah. Gue
tidur lagi ya. Masih ngantuk banget nih, kak. Bye.” Perlahan Intan kembali
kekamar. Bayangannya lama-kelamaan tertelan, tak terlihat. Setelah beberapa
saat, rasa kantuk mulai menghampiriku. Akhirnya kuputuskan untuk kembali ke
kamar sebelum Mama memergoki ku begadang lagi. Mama paling tidak suka melihatku
begadang terus. Bisa-bisa kepalaku dijitak
lalu dia ngomel lama sekali.
Matahari
mulai keluar dari perembunyian. Dengan cantik, ia melemparkan cahayanya ke
bumi. Menendang gelap yang sebelumnya berkuasa. Ah sudah pagi. Setelah mandi
dan sarapan pagi, aku bergegas ke kampus dengan Intan. Kunyalakan mobil, tak
lama kemudian Intan duduk di kursi disebelahku dengan tergesa-gesa. “Buruan
kak. Gue telat nih. Lupa kalo ada
kuliah pagi!” “Ye! Kebiasaan lo!” jawabku sambi menggeleng. Setelah dua puluh
menit di perjlanan, akhirnya kami sampai di kampus. Di depan kantin, aku
bertemu dengan sita. “Sit, kenapa kamu tak menjawab telepon ku? Kemana saja
semalam? Kenapa tak ada kabar? Kamu tak tahu aku khawatir? Apa kamu sedang
pergi dengan lelaki itu lagi?” “Apa yang kamu bicarakan? Aku semalaman dirumah,
Ryan. Kenapa curiga terus? Aku sibuk dengan tugas kuliah ku.” “Tapi apa
susahnya mengangkat teleponku atau sekedar mengabarkan?” “Iya, yan. Maafkan
aku. Kamu sudah makan?” “Jangan diulangi lagi. Aku khawatir. Aku sudah sarapan
tadi. Bukankah kamu sedang ada kelas? Tadi intan sepertinya buru-buru.”
“Dosennya belum lama keluar kelas. Intan selalu saja terlambat.” “Yasudah. Kamu
mau makan? Biar aku temenin ya.” Sita
memesan bakso yang tempatnya tak jauh dari tempat duduk kami. Sekeliling kantin
masih sepi. Mungkin hanya sedikit mahasiswa yang masik pagi hari ini. tiba-tiba
ku dengar dering telepon genggam dari tas Sita. Segera ku ambil. Ternata ada sms dari nomor yang tak dikenal atau sengaja tak
diberi nama. Entahlah. Segera kubaca smsnya.
|
Sial!
Beraninya Sita membohongiku. Nomer siapa ini? mengapa tak diberi nama? Siapa
yang bertemu dengan Sita semalam? Apakah lelaki itu? Segera kuhapus
smsnya. Setelah Sita selesai memesan
makanannya, ia duduk disampingku. Aku berpura-pura tak terjadi apa-apa. Aku
hanya bisa mengepalkan tanganku, menahan
amarah. Aku berusaha menormalkan perasaanku, tetap berpikir positif. Terbersit
di pikiranku untuk berkunjung kerumah Sita nanti malam. Mungkin saja aku akan
bertemu dengan lelaki itu. Semoga saja lelaki itu benar-benar berkunjung
kerumah Sita.lamunanku pecah ketika Sita menyapa. “Hey, kamu kenapa? Kok
tiba-tiba mukanya gitu?” “Enggak kok sayang. Makan dulu gih kamu.” Setelah
selesai makan, kami segera masuk kelas masing-masing.
Tepat pukul 7 malam aku tiba
dirumah. Seperti niatku sebelumnya, aku akan datang kerumah Sita. Berharap akan
bertemu dengan mantan kekasinya disana. Setelah mandi dan ganti baju, aku
bergegas menyalakan mobil dan pergi kerumahnya di daerah Mampang, Jakarta
Selatan. Perjalanan hampir setengah jam dari rumahku. Akhirnya aku tiba dirumah
Sita. Benar saja, ada mobil lain yang lebih dulu parkir didepan rumahnya. Sita
memang tak tahu bahwa aku ingin datang
kerumahnya. Dengan cepat aku memasuki rumahnya dan memergoki Sita sedang
mengobrol dengan seseorang. Entah siapa.
“Sita.” “Hey, yan. Kamu kok tumben enggak bilang dulumau kerumahku.ada apa, Yan?”
“Enggak ada apa-apa kok. Cuma mau main aja. Itu siapa ,Sit?” “uhm. Itu Rudy.”
Dadaku berdegup kencang.antara kaget dan menahan amarah. Rudy adalah mantan kekasih
sita yang sempat ia ceritakan waktu itu.
Benar aja, ternyata tadi pagi dialah yang SMS Sita. Mengapa Sita tak bilang
kalau ada lelaki lain yang berkunjung kerumahnya dan itu mantannya. Ternyata Sita memang sengaja menyembunyikan
hal ini kepadaku. Tega sekali. “Oh Rudy. Maaf aku mengganggu. Aku pulang saja,
Sit.” Dengan cepat aku kembali ke mobil dan pulang kerumah. Tak ku hiraukan apa
yang Sita bilang pada ku saat aku pulang tadi. Aku hanya fokus pada pikiran dan
amarahku. Sesampainya dirumah, kulihat
ada beberap panggilan tak terjawab di telepon genggamku. Seperti dugaanku, Sita
yang menelepon. Ulihat pula ada SMS yang ia tinggalkan. “Kenapa kau tiba-tiba
pulang? Ada yang harus kujelaskan padamu. Maaf. Mungkin aku mengecewakanmu.
Besok kita bicarakan masalah ini di kampus, yan.”
Keesokan harinya, seperti biasa aku
berangkat ke kampus bersama Intan. Diperjalanan, Intan sempat menanyakan
masalahku dengan Sita. “kak, ada masalah ya sama Sita? Cowok itu lagi? Sudah
lah, kak. Jangan terbawa emosi.” Aku hanya menjawabnya dengan senyuman. Hening.
Kuputuskan untuk menyalakan radio di mobil untuk memecah kesunan itu. Akhirnya
kami tiba dikampus, aku pun menemui Sita. Dia mengajakku ke kantin. Sesampainya
dia dikantin, dia meluapkan kata-kata yang seoertinya sudah ia siapkan sejak
semalam. “Maafkan aku, yan. Bukannya aku ingin membohongimu. Bukannya aku ingin
menyembunyikan sesuatu darimu. Yang semalam itu, lelaki yang bersamaku, memang
Rudy, Mantan kekasihku sewaktu SMA. Akhir-akhir ini kami memang sering
berhubungan. Ku akui, memang aku tak pernah bilang padamu. Tba-tiba saja Rudy
datang ke kehidupanku lagi. Hati kecilku tak bhisa berbohong aku masih
mencintainya, yan. Perasaanku belum hilang kepada Rudy. Aku tak berniat untuk
memainkan perasaanmu. Aku tahu bahwa kamu benar-benar mencintaiku. Aku juga
mencintaimu, yan. Tapi ini pilihan yang sangat sulit untukku. Aku sudah tak
bisa menyembunyikan apapun dari mu sekarang. Maafkan aku, Yan. Mungkin kau
menganggap ku hanya menjadikan mu sebagai pelarian. Terserah lah kau mau
menganggap apa. Aku hanya bisa meminta maaf kepadamu.” Dadaku berdegup kencang.
Aku tak bisa menyalahkannya. Aku tak bisa memaksakan perasaannya. “baiklah, Sit. Cinta memang tak bisa
dipaksakan. Aku tak bisa memaksamu terus bersama ku selama ada laki-laki itu.
Mungkin ini sangat berat bagiku. Aku sadar, aku harus merelakan mu. Aku juga
ingin melihatmu bahagia. Walaupun bukan denganku. Maafkan aku, mungkin aku
belum bisa menjadi kekasih yang baik untuk mu. Belum bisa membuatmu lupa kepada
masa lalumu. Terima kaih untuk semua yang pernah kamu berikan. Aku sangat
senang pernah menjadi bagian dari hidupmu, walaupun hanya sebagai pelarian.
Baiklah, mulai sekarang kita ambil jalan masing-masing. Kita putus . semoga
saja kau bisa bahagia dengan Rudy.” “Terima kasih,Yan. Kau memang lelaki yang
baik. aku mendoakan yang terbaik utuk mu. Diluar sana masih banyak perempuan
baik yang akan menemanimu. Terima kasih untuk segalanya. “
Hari ini ditutup dengan hal yang
sebenarnya hampir membuatku menangis. Entah menangis karena sedih ditinggal
oleh Sita. Atau menangis terharu karena akhirnya orang yang ku cintai mendapat
kebahagiaanya. Bagaimanapun caranya, aku harus ikhlas. Aku harus senang melihat
Sita baghagia. Benar kata pepatah, cinta tak harus memiliki. Tapi ia harus tau,
apapun yang terjadi, bagaimanapun nanti, aku akan tetap disini untuknya. Menunggunya.
Terima kasih, Sita.
(terinspirasi dari sajak "Pelarian" karya Chairil Anwar) SovaSakinah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar