Kali ini saya akan memberikan sedikit asumsi mengenai sajak Karawang Bekasi (Chairil Anwar) yang diklaim menjiplak sajak yang dibuat oleh Archibald MacLeish yang berjudul The Young Dead Soldier.
Sebelumnya kita baca dulu kedua sajak tersebut:
Archibald
MacLeish
The
Young Dead Soldier
Nevertheless they are heard in the still
houses: who has not heard them?
They have a silence that speaks for them at
night and when the clock counts.
They say, We were young. We have died.
Remember us.
They say, We have done what we could but
until it is finished it is not done.
They say, We have given our lives but until
it is finished no one can know what our lives gave.
They say, Our deaths are not ours: they are
yours: they will mean what you make them.
They say, Whether our lives and our deaths
were for peace and a new hope or for nothing we cannot say: it is you who must
say this.
They say, We leave you our deaths: give them
their meaning: give them an end to the war and a true peace: give them a
victory that ends the war and a peace afterwards: give them their meaning.
We were young, they say. We have died.
Remember us.
xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx
Chairil
Anwar
KARAWANG
- BEKASI
Kami yang kini terbaring antara
Krawang-Bekasi
tidak bisa teriak “Merdeka” dan angkat
senjata lagi.
Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru
kami,
terbayang kami maju dan mendegap hati ?
Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang
berdetak
Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi
debu.
Kenang, kenanglah kami.
Kami sudah coba apa yang kami bisa
Tapi kerja belum selesai, belum bisa
memperhitungkan arti 4-5 ribu nyawa
Kami cuma tulang-tulang berserakan
Tapi adalah kepunyaanmu
Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang
berserakan
Atau jiwa kami melayang untuk kemerdekaan
kemenangan dan harapan
atau tidak untuk apa-apa,
Kami tidak tahu, kami tidak lagi bisa berkata
Kaulah sekarang yang berkata
Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika ada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kenang, kenanglah kami
Teruskan, teruskan jiwa kami
Menjaga Bung Karno
menjaga Bung Hatta
menjaga Bung Sjahrir
Kami sekarang mayat
Berikan kami arti
Berjagalah terus di garis batas pernyataan
dan impian
Kenang, kenanglah kami
yang tinggal tulang-tulang diliputi debu
Beribu kami terbaring antara Krawang-Bekasi
xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx
Asumsi Sajak Karawang – Bekasi dengan The Young Dead
Soldiers
Pada sajak Chairil
Anwar yang berjudul Karawang-Bekasi memang banyak ditemukan kemiripan dengan
sajak Archibald MacLeish yang berjudul The Young Dead Soldiers. Menurut saya,
adanya kesamaan sajak tersebut merupakan hal yang wajar. Mungkin kesamaan itu
ada karena faktor ketidak sengajaan. Dalam ulasan dari Asrul Sani dikemukakan
bahwa Chairil Anwar mempunyai daya ingat yang tajam dalam hal sastra. Mungkin
karena faktor tersebut ada pengaruh dari sajak yang pernah dibaca oleh Chairil
Anwar terhadap karya-karya yang dibuatnya. Mungkin sajak The Young Dead
Soldiers karya Archibald MacLeish pernah diaca sebelumnya oleh Chairil Anwar di
sebuah media dan menjadi salah satu inspirasi dalam karya sastranya. Hal
tersebut tentu saja tidak dapat dikatakan sebagai plagiat.Chairil Anwar tidak
mengkopi sajak Archibald MacLeish secara mentah-mentah. Mungin ada beberapa
baris dari sajak yang dibuatnya yang memiliki sedikit kesamaan, namun G.S
Kumajat hanya menekankan bagian yang sama. Tidak memahas perbedaan sajak
tersebut yang memang jauh lebih banyak.
Kata-kata dalam sajak
Chairil anwar sangat bagus dan gambarannya sangat berbeda dengan Archibald MacLeish.
Mereka memang mebicarakan hal yang sama yakni tentang perjuangan para tetara
yang telah gugur yang harus diteruskan oleh masa pendatang. Sajak
Karawang-Bekasi merupakan sajak milik pribadi Chairil Anwar, yang mungkin
sedikit masuk pengaruh dari sajak The Young Dead Soldiers karya Archibald MacLeish.
Terlihat adanya jiwa
Chairil Anwar yang sungguhsungguh menulis sajak ini
Kami yang kini
terbaring antara Karawang-Bekasi
Tidak bisa teria
“Merdeka” dan angkat senjata lagi.
Dalam sajak
Karawang-Bekasi milik Chairil Anwar tentu terlihat keindahan diksi, khas
Chairil Anwar yang tentunya tidak terlihat dalam sajak The Dead Tyoung Soldiers
milik Archibald MacLeish.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar