Selasa, 12 Juni 2012

Sajak Karawang Bekasi Chairil Anwar dan The Young Dead Soldier - Asumsi


Kali ini saya akan memberikan sedikit asumsi mengenai sajak Karawang Bekasi (Chairil Anwar) yang diklaim menjiplak sajak yang dibuat oleh Archibald MacLeish yang berjudul The  Young Dead Soldier.

Sebelumnya kita baca dulu kedua sajak tersebut:


Archibald MacLeish
The Young Dead Soldier
Nevertheless they are heard in the still houses: who has not heard them?
They have a silence that speaks for them at night and when the clock counts.
They say, We were young. We have died. Remember us.
They say, We have done what we could but until it is finished it is not done.
They say, We have given our lives but until it is finished no one can know what our lives gave.
They say, Our deaths are not ours: they are yours: they will mean what you make them.
They say, Whether our lives and our deaths were for peace and a new hope or for nothing we cannot say: it is you who must say this.
They say, We leave you our deaths: give them their meaning: give them an end to the war and a true peace: give them a victory that ends the war and a peace afterwards: give them their meaning.
We were young, they say. We have died. Remember us.




 xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx






Chairil Anwar
KARAWANG - BEKASI

Kami yang kini terbaring antara Krawang-Bekasi
tidak bisa teriak “Merdeka” dan angkat senjata lagi.
Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami,
terbayang kami maju dan mendegap hati ?

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu.
Kenang, kenanglah kami.

Kami sudah coba apa yang kami bisa
Tapi kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti 4-5 ribu nyawa

Kami cuma tulang-tulang berserakan
Tapi adalah kepunyaanmu
Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan

Atau jiwa kami melayang untuk kemerdekaan kemenangan dan harapan
atau tidak untuk apa-apa,
Kami tidak tahu, kami tidak lagi bisa berkata
Kaulah sekarang yang berkata

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika ada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak

Kenang, kenanglah kami
Teruskan, teruskan jiwa kami
Menjaga Bung Karno
menjaga Bung Hatta
menjaga Bung Sjahrir

Kami sekarang mayat
Berikan kami arti
Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian

Kenang, kenanglah kami
yang tinggal tulang-tulang diliputi debu
Beribu kami terbaring antara Krawang-Bekasi





xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx







Asumsi Sajak Karawang – Bekasi dengan The Young Dead Soldiers
Pada sajak Chairil Anwar yang berjudul Karawang-Bekasi memang banyak ditemukan kemiripan dengan sajak Archibald MacLeish yang berjudul The Young Dead Soldiers. Menurut saya, adanya kesamaan sajak tersebut merupakan hal yang wajar. Mungkin kesamaan itu ada karena faktor ketidak sengajaan. Dalam ulasan dari Asrul Sani dikemukakan bahwa Chairil Anwar mempunyai daya ingat yang tajam dalam hal sastra. Mungkin karena faktor tersebut ada pengaruh dari sajak yang pernah dibaca oleh Chairil Anwar terhadap karya-karya yang dibuatnya. Mungkin sajak The Young Dead Soldiers karya Archibald MacLeish pernah diaca sebelumnya oleh Chairil Anwar di sebuah media dan menjadi salah satu inspirasi dalam karya sastranya. Hal tersebut tentu saja tidak dapat dikatakan sebagai plagiat.Chairil Anwar tidak mengkopi sajak Archibald MacLeish secara mentah-mentah. Mungin ada beberapa baris dari sajak yang dibuatnya yang memiliki sedikit kesamaan, namun G.S Kumajat hanya menekankan bagian yang sama. Tidak memahas perbedaan sajak tersebut yang memang jauh lebih banyak.
Kata-kata dalam sajak Chairil anwar sangat bagus dan gambarannya sangat berbeda dengan Archibald MacLeish. Mereka memang mebicarakan hal yang sama yakni tentang perjuangan para tetara yang telah gugur yang harus diteruskan oleh masa pendatang. Sajak Karawang-Bekasi merupakan sajak milik pribadi Chairil Anwar, yang mungkin sedikit masuk pengaruh dari sajak The Young Dead Soldiers karya Archibald MacLeish.
Terlihat adanya jiwa Chairil Anwar yang sungguhsungguh menulis sajak ini
Kami yang kini terbaring antara Karawang-Bekasi
Tidak bisa teria “Merdeka” dan angkat senjata lagi.
Dalam sajak Karawang-Bekasi milik Chairil Anwar tentu terlihat keindahan diksi, khas Chairil Anwar yang tentunya tidak terlihat dalam sajak The Dead Tyoung Soldiers milik Archibald MacLeish.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar